Potensi ancaman kawasan
Posted by wahyupnguinea on June 24, 2008
Secara letak geografis wilayah Papua Nugini berdekatan dengan beberapa negara tetangga baik yang berbatasan secara langsung seperti Indonesia, maupun negara yang dibatasi oleh perairan seperti Kep. Melanesia ( Fiji, Vanuatu, Solomon, Tuvalu, dsb ) dan Australia. Hal ini tentu saja akan menimbulkan berbagai pengaruh terhadap tatanan politik pemerintahan dalam negeri Papua Nugini, pengaruh-pengaruh ini bisa bersifat negatif dan positif. Pengaruh secara positif tentunya akan banyak menguntungkan dan membawa perubahan bagi Papua Nugini diantaranya dengan bekerjasama dalam suatu hal tertentu seperti kerjasama dalam bidang ekonomi, dan lain sebagainya. Namun disamping pengaruh positif tersebut terdapat pula pengaruh negatif yang akan memberikan dampak buruk terhadap tatanan politik dalam negeri.
Berdasarkan kawasan di Asia Pasifik, terdapat negara yang dianggap akan mengancam kedulatan negara Papua Nugini. Hal ini terlihat dari sepak terjang kekuatan militer beserta basis ideologi Liberal negara tersebut. Negara itu tiada lain adalah negara Australia yang dalam kancah dunia Internasional Australia ini selalu ikut terhadap kebijakan wejangan ‘paman sam’. Sebagai contoh : Kekuatan militer Aussie pada tahun 1950-1960an yang menganut konsep Forward Defence ( hal ini berarti Australia menempatkan pasukannya diluar negaranya sendiri seperti pasukan di Korea Selatan, Vietnam, Semenanjung Malaysia dan Serawak di Malaysia Timur sebagai kerjasama pertahanan dengan Inggris dan Amerika Serikat ).
Pada saat perang Vietnam Australia mengerahkan lebih dari 6.000 pasukannya, Kekuatan militer yang dimiliki diantaranya : Armour Personal Carrier M113A1 ( dilengkapi dengan senapan mesin Browning kaliber 7,62mm ganda dari kendaraan lapis baja V-100 Commando, dan panser VF.601 Saladin dengan kanon kaliber 76mm ). Untuk angkatan udara ( RAAF-Royal Australian Air Force ) menempatkan helikopter UH-1H Iroquois dan pesawat Caribou di Vung Tau, Vietnam, selama tujuh setengah tahun. Pesawat Caribou, delapan helikopter UH-1H dari Skadron-5/Helikopter yang berpangkalan di Canberra pernah bergabung dengan pasukan Multinasional di El Gorah, Sinai di Mesir.
Selain kekuatan militer yang dimiliki diatas, terdapat pesawat tempur F-18A Hornet (dipersenjatai dengan peluru kendali udara-ke-udara jarak pendek AIM-9 Sidewinder dan AIM-7 Sparrow jarak jauh, kanon 20mm, bom konvensional dan peluru kendali anti kapal dengan sistem kendali laser AGM-84A Harpoon berhulu ledak 910 kg ) , pesawat buru sergap segala cuaca Mirage IIIQ, dua Skadron P-3C Orion yang berpangkalan di Eidenburgh, Australia Selatan, masing-masing Skadron-10 dan Skadron-11/Intai Maritim. Kekuatan militer juga terlihat dalam statistik sebagai berikut :
|
Armed Forces of Australia |
||||||||||||||||
|
|
|
Land |
Tot |
Tot |
|
Act |
Mil |
Bud |
|
Air |
|
|
|
|
|
|
|
|
||||||||||||||||
|
Australia |
9 |
33 |
54 |
19.1 |
$400 |
50 |
$7200 |
$144 |
640 |
140 |
6 |
7 |
7 |
6 |
4 |
7 |
Dari data kekuatan militer Australi diatas, beserta contoh ekspansi terhadap negara lain, terlihat bahwasannya Australia merupakan negara besar yang berpotensi mengancam keberlangsungan tatanan politik Papua Nugini. Selain Australia masih terdapat satu negara lagi yang dianggap memiliki potensi ancaman wilayah Papua Nugini, yaitu Indonesia. Dengan Indonesia yang secara geografis berbatasan secara langsung, akan memberikan pengaruh yang sangat besar yakni masalah perbatasan wilayah.


